Perkenalkan namaku adalah Ulfa. Aku adalah anak tunggal dari kedua orang tuaku. Keluargaku tergolong keluarga menengah keatas, ayahku mempunyai mobil mewah dan rumah yang lumayan besar. Dari kecil aku selalu dimanjakan oleh keduaorangtuaku semua keinginanku selalu terpenuhi. Mengenai riwayat pendidikan, aku selalu bersekolah di sekolah yang favorit dan mahal. Walaupun aku tidak pernah masuk ranking teratas hehe.

Aku anaknya manja, suka mengurung diri di kamar, dan suka untuk jalan-jalan ke mall. Kadang aku menjadi anak yang aneh karena aku suka berjalan sendirian di tengah keramaian. Aku mungkin agak berbeda dengan teman-tamanku yang lainnya, aku terlalu asik dengan duniaku sendiri. Apalagi jaman sekarang yang serba modern, aku lebih suka tuk tidak menghabiskan energy dan lebih suka tiduran di kamar dan mendengarkan musik serta bermain game-game kecil.

Orangtuaku sering sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, tiap kali aku pulang sekolah selalu sepi di rumah. Namun itu bukan masalah untukku, aku tidak peduli dengan mereka yang jelas semua kebutuhanku telah terpenuhi.

***

Suatu kejadian paling tidak aku dan keluargaku inginkan adalah ketika usaha ayahku bangkrut dan kemudian dia terlilit hutang sehingga rumah besar yang kami miliki harus dijual untuk mengompensasikan hutang-hutang ayahku. “down…down…down” aku sedih karena sekarang uang jajanku berkurang sangat drastis, aku mulai sadar dan mulai menjauhi teman-temanku yang hedonism karena walaupun hobiku berdiam diri di kamar dan tidak menghabiskan energi. sesekali dan hampir seminggu sekali aku selalu jalan-jalan dengan teman-temanku.

Aku mulai sadar tentang keadaan ekonomi keluargaku, ibuku yang dulu selalu tenang, sekarang menjadi pemarah. Kedua-orangtuaku sering bertengkar dan suaranya terdengar sampai ke kamarku. Aku sekarang tak tau harus bagaimana menghadapi hal ini.

Karena sekarang aku ingin fokus belajar untuk menghadapi ujian nasional SMA yang akan diadakan sebentar lagi. Aku memutuskan untuk ikut campur urusan kedua-orangtuaku
“ayah,,ibu,, mohon mengertilah aku, aku sebentar lagi mau menghadapi ujian nasional, aku mohon… mohooon dengan sangat, aku butuh ketenangan di rumah sehingga aku bisa fokus tuk belajar” dengan meneteskan air mata aku berbicara demikian.

Aku berhasil menenangkan kedua-orangtuaku dan aku tersenyum bahagia, aku langsung memeluk ayahku dan kemudian ibuku menyusul. Kami bertiga berpelukan hangat dengan penuh keharuan.
~Kehancuran usaha yang sebelumnya terjadi disebabkan karena ayahku terlalu ambisius dan spekulatif untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya tanpa didukung dan dipikirkan dengan matang sehingga strategi pemasaran yang tanpa dilakukan riset sebelumnya, membuat perusahaan collapse dan tak bisa menjaga kesinambungan perusahaan lagi.

Namun, ayahku adalah orang yang kuat dan hebat karena setelah kebangkrutan tersebut beliau belajar dari kesalahannya dan kembali bangkit. Dengan modal menjual mobil yang merupakan asset yang masih tersisa, dia membangun perusahaan baru di bidang kuliner berupa makanan ringan. Dan dalam sebulan sudah memiliki omzet lebih dari 100juta rupiah, sungguh sesuatu yang fantastis. Yang sebelumnya jatuh langsung bisa bangkit lagi.~
Sesekali ayahku selalu berbicara denganku dan menceritakan persoalan kerja dan manajemen perusahaannya kepadaku, aku hanya sering mengangguk dan kadang kurang memerhatikan ketika ayahku berbicara. Aku adalah anak terdekat ayahku (ya iyalah namanya juga anak tunggal hehe)
“nak dengarkan ayah, ketika bekerja kamu haruslah sungguh-sungguh dan jangan pernah menyerah dengan keadaan apapun itu. Ketidakpastian sudah menjadi makanan sehari-hari perusahaan, dalam mengambil keputusan kadang kita mengambil keputusan yang salah karena kita hanya memikirkan kemungkinan baiknya tanpa memikirkan keungkinan terburuk yang terjadi. Jadi sebelum mengambil keputusan haruslah dipikirkan dulu dengan matang berdasarkan informasi dan data yang ada”
“iya yah” aku hanya menganggukan kepala